Selamat Datang di Dini's Corner, Blog yang dibuat oleh orang yang maniak dengan petualangan. Just enjoy my posting! Check it Out ! April 2014 | Dini's Corner

.

Powered by Blogger.

FT (Five Treasure) Island Logo
RSS

5 Dosa Para Pendaki Gunung yang harus dihindari








ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam?
1. Melakukan kegiatan pendakian massal (non-konservatif)

Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu. Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi.

Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.

Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya.

Jadilah pendaki yang bertanggung jawab, sob!
2. Andil besar mencemari lingkungan


Biarkan mereka tetap pada tempatnya

Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan. Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi.

Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?

Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu!

Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!

Dan banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.
3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.

Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan. Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan.

Juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis. Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat.

Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”


Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.
4. Merusak keasrian gunung

Tidak sulit menemui corat-coret vandalisme di bebatuan, batang pohon, bahkan pos pendakian. Mengambil flora & fauna langka seperti bunga edelweiss, bertindak sembrono sehingga mengakibatkan kebakaran hutan. Puntung rokok dan bekas api unggun yang masih menyala, membuka jalur yang tidak seharusnya, membuang tissue basah kotor seenaknya dan masih banyak lagi.
5. Tidak membagikan pengetahuan tentang pendakian konservatif

Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’. Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya.

Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.

Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain.

Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Amin.

Salam lestari!


Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.


Sumber: http://www.wiranurmansyah.com/5-dosa-pendaki-gunung

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kabuyutan di Gunung Gede dan Gunung Pangrango


Di akhir abad ke-15, atau selambat-lambatnya awal abad ke-16, seorang pendeta bernama Bujangga Manik melakukan “wisata ziarah” ke tempat-tempat suci di Pulau Jawa. Bahkan, dalam perjalanan kedua, ia sampai ke Bali. Ia berangkat dari ibu kota Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang), baik melalui darat maupun melalui laut. Kisah perjalanan yang dituliskannya pada helaian daun lontar, juga mungkin nipah atau gebang dengan menggunakan bahasa Sunda, sejak tahun 1627 tercatat sebagai koleksi Bodleian Library di Oxford, Inggris.

Dari catatan perjalanannya itu, terkesan ia sekurang-kurangnya dua kali melintas ke tempat yang sekarang dikenal sebagai daerah Gunung Gede Pangrango (3.019 m). Dalam perjalanan pertama sewaktu berangkat ke wilayah timur, ia melalui tempat-tempat yang namanya masih dipertahankan hingga sekarang, misalnya Tajur Mandiri (sekarang Tajur) dan Suka Beurus (sekarang Sukabirus). Demikian juga tempat bernama Puncak yang ketika itu sudah dikenal.

Katanya, “Panjang ta(n)jakan ditedak, ku ngaing dipeding-peding. Sadatang aing ka Puncak, deuuk di na mu(ng)kal datar, teher ngahihidan awak. Teher sia ne(n)jo gunung, itu ta na Bukit Ageung, hulu wano na Pakuan.” Terjemahan bebasnya kira-kira berarti, “Panjang tanjakan yang kulalui, kutempuh dengan tekun. Setiba aku di Puncak, aku duduk di atas batu datar (rata) sambil mengipasi tubuh. Lalu aku memandang ke arah gunung, itulah Bukit Ageung, titik tertinggi di wilayah Pakuan”.

Ketika kedua kalinya melalui daerah itu, ia datang dari timur. Sekembali dari perjalanan ziarahnya mengunjungi tempattempat suci di Majapahit, bahkan Bali. Katanya, ”Sadatang ka Bukit Ageung: eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, sanghiang Talaga Warna.” Terjemahan bebasnya kira-kira, “Setiba di Bukit Ageung, itulah hulu Ci Liwung, kabuyutan (= tempat suci) dari Pakuan, (yaitu) sanghiang Talaga Warna”.

Bukit Ageung atau Bukit (gunung) Besar yang terdapat di daerah Puncak, dan juga menyebut Ci Liwung dan Talaga Warna, pastilah gunung yang sekarang bernama Gunung Gede (2.958 m). Atau, dalam hal masih timbul keraguan, bersama “saudara kembarnya”, Gunung Pangrango (3.019 m). Bagi sebagian masyarakat yang sekarang berdiam di sekitar kedua gunung itu, Gunung Gede memang kadang-kadang juga disebut Gunung Agung atau Gunung Ageung.
Gunung lain yang oleh masyarakat sekitarnya juga dinamakan Gunung Ageung (Agung) atau Gunung Gede adalah Gunung Ciremay (3.078 m) di Cirebon dan Gunung Slamet (3.428 m) di Pekalongan.

Kutipanpuisi itu memberikan petunjuk kepada kita bahwa di masa lampau, ketika negara yang beribukotakan Pakuan masih ada, Gunung Gede dengan Telaga Warna sudah merupakan kabuyutan atau tempat suci. Apakah Talaga Warna menurut Bujangga Manik itu (awal abad ke-16) sama dengan Talaga Rena Mahawijaya menurut prasasti Batutulis (1533)? Hingga saat ini sebagian ada yang berpendapat demikian. Walaupun, tentu saja, cukup mengherankan jika dalam waktu tidak sampai seperempat abad, jika memang benar, namanya sudah berubah dari Talaga Warna menjadi Talaga Rena Mahawijaya.

Petunjuk lain yang dapat diambil dari naskah itu adalah yang berhubungan dengan lembah Mandalawangi, yang oleh sebagian masyarakat juga dikenal dengan nama lembah Eyang Suryakencana. Bujangga Manik yang dengan sengaja berkunjung ke berbagai kabuyutan dan tempat suci hingga ke ujung timur Pulau Jawa dan Bali ternyata sama sekali tidak menyebutkan kabuyutan Eyang Suryakencana.

Apakah itu berarti bahwa ketika itu kabuyutan itu belum ada? Sesuatu yang juga sangat masuk akal mengingat, menurut tradisi rakyat setempat, Eyang Suryakencana adalah Raja Pajajaran yang terakhir. Artinya, jika itu dihubungkan dengan berita naskah Carita Parahyangan (1580) dan kemudian diperkuat oleh Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa Kulwan (1687) karya Pangeran Wangsakerta dan kawan-kawan dari Cirebon, terdapat kesesuaian juga.

Menurut kedua naskah itu, raja terakhir yang bernama Nu Siya Mulya “ia (baginda) yang mulia” memerintah selama tahun (1567-1579). Berarti, ketika Bujangga Manik berkunjung ke Gunung Gede, Nu Siya Mulya atau yang Suryakencana belum menjadi raja, bahkan mungkin juga belum lahir. Karena itu, sangat wajar jika ia tidak mengenal kabuyutan yang memang diharapkan itu belum ada.

Alam di sekitar Gunung Gede-Pangrango ternyata merupakan makmal, ‘laboratorium’, alam untuk berbagai jenis tanaman. Hal itu menyebabkan para perintis botani pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, misalnya Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), ahli botani keturunan Jerman yang berkelana di pegunungan Jawa Barat, meneliti fenomena alam tropis. Ia pun memperkenalkan tanaman kina dan membudidayakannya di daerah Lembang.

Selain Junghuhn, juga tercatat peneliti tanaman tropis di daerah pegunungan Jawa, termasuk Gede dan Pangrango, adalah G Forbes, Direktur Museum Botani di Liverpool, Inggris. Forbes tahun 1871 pernah berkelana di alam pegunungan Jawa Barat, dari Buitenzorg (Bogor) ke Bandung dengan kereta pos dengan kuda dan kerbau, semalam suntuk baru tiba di Bandung.

Kekayaan tanaman di pegunungan itu menyebabkan penguasa pada waktu itu lalu melakukan upaya perlindungan. Tindakan nyatanya adalah dengan menjadikan kawasan itu sebagai suaka alam dan kini menjadi Taman Nasional Gede-Pangrango.

Untuk memperlihatkan betapa bermaknanya kedua gunung itu bagi orang Sunda yang menganggap berasal dari Pajajaran, simaklah lirik lagu berikut ini:
“Gunung Gede siga nu nande/ nandean ka badan abdi/ Gunung Pangrango ngajogo/ ngadagoan abdi wangsul/ wangsul ti pangumbaraan/ kebo mulih pakandangan/ nya muncang labuh ka puhu/ anteurkeun ka Pajajaran”.

Terjemahan bebasnya, “Gunung Gede bagaikan menampung, menampung tubuh diriku; Gunung Pangrango menunggu, menanti aku kembali; aku pulang mengembara, bagai kerbau kembali ke kandangnya, bagaikan kemiri jatuh ke pangkal, antarkanlah daku ke Pajajaran”.

Begitu pun Kalipah Apo atau Ace Majid, ketika berada di puncak Gunung Halimun, ia bermadah, Laut Kidul kabeh katingali/ ngembat paul kawas dina gambar/ ari ret ka tebeh kaler/ Batawi ngarunggunuk/ lautna mah teu katingal/ ukur lebah-lebahna/ semu-semu biru/ ari ret ka kaler wetan/ Pangrango siga nu ngajak balik/ meh bae kapiuhan.

Terjemahan bebasnya, “Laut Kidul semua jelas terlihat, membiru bagaikan gambar, ketika memandang ke arah utara, Kota Betawi pun muncul, namun lautnya tak tampak, hanya perkiraan letaknya yang terlihat berwarna biru; ketika menoleh ke timur laut, Pangrango bagaikan mengajak pulang, aku pun hampir pingsan”.

Gunung Gede-Pangrango memang gunung kabuyutan di Tatar Sunda. Gunung yang menjadi taman nasional ini harap saja tetap menjadi “tempat suci” yang dijaga dan dilestarikan. Meski di seputarannya, penjarahan dan perusakan alam masih terus berlangsung, malah makin hebat dan membinasakan kalau tidak dicegah. Apa mampu?

Di akhir abad ke-15, atau selambat-lambatnya awal abad ke-16, seorang pendeta bernama Bujangga Manik melakukan “wisata ziarah” ke tempat-tempat suci di Pulau Jawa. Bahkan, dalam perjalanan kedua, ia sampai ke Bali. Ia berangkat dari ibu kota Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang), baik melalui darat maupun melalui laut. Kisah perjalanan yang dituliskannya pada helaian daun lontar, juga mungkin nipah atau gebang dengan menggunakan bahasa Sunda, sejak tahun 1627 tercatat sebagai koleksi Bodleian Library di Oxford, Inggris.

Dari catatan perjalanannya itu, terkesan ia sekurang-kurangnya dua kali melintas ke tempat yang sekarang dikenal sebagai daerah Gunung Gede Pangrango (3.019 m). Dalam perjalanan pertama sewaktu berangkat ke wilayah timur, ia melalui tempat-tempat yang namanya masih dipertahankan hingga sekarang, misalnya Tajur Mandiri (sekarang Tajur) dan Suka Beurus (sekarang Sukabirus). Demikian juga tempat bernama Puncak yang ketika itu sudah dikenal.

Katanya, “Panjang ta(n)jakan ditedak, ku ngaing dipeding-peding. Sadatang aing ka Puncak, deuuk di na mu(ng)kal datar, teher ngahihidan awak. Teher sia ne(n)jo gunung, itu ta na Bukit Ageung, hulu wano na Pakuan.”

Terjemahan bebasnya kira-kira berarti,
“Panjang tanjakan yang kulalui, kutempuh dengan tekun. Setiba aku di Puncak, aku duduk di atas batu datar (rata) sambil mengipasi tubuh. Lalu aku memandang ke arah gunung, itulah Bukit Ageung, titik tertinggi di wilayah Pakuan”.

Ketika kedua kalinya melalui daerah itu, ia datang dari timur. Sekembali dari perjalanan ziarahnya mengunjungi tempattempat suci di Majapahit, bahkan Bali. Katanya, ”Sadatang ka Bukit Ageung: eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, sanghiang Talaga Warna.“

Terjemahan bebasnya kira-kira, “Setiba di Bukit Ageung, itulah hulu Ci Liwung, kabuyutan (= tempat suci) dari Pakuan, (yaitu) sanghiang Talaga Warna”.

Bukit Ageung atau Bukit (gunung) Besar yang terdapat di daerah Puncak, dan juga menyebut Ci Liwung dan Talaga Warna, pastilah gunung yang sekarang bernama Gunung Gede (2.958 m). Atau, dalam hal masih timbul keraguan, bersama “saudara kembarnya”, Gunung Pangrango (3.019 m). Bagi sebagian masyarakat yang sekarang berdiam di sekitar kedua gunung itu, Gunung Gede memang kadang-kadang juga disebut Gunung Agung atau Gunung Ageung.
Gunung lain yang oleh masyarakat sekitarnya juga dinamakan Gunung Ageung (Agung) atau Gunung Gede adalah Gunung Ciremay (3.078 m) di Cirebon dan Gunung Slamet (3.428 m) di Pekalongan.

Kutipanpuisi itu memberikan petunjuk kepada kita bahwa di masa lampau, ketika negara yang beribukotakan Pakuan masih ada, Gunung Gede dengan Telaga Warna sudah merupakan kabuyutan atau tempat suci. Apakah Talaga Warna menurut Bujangga Manik itu (awal abad ke-16) sama dengan Talaga Rena Mahawijaya menurut prasasti Batutulis (1533)? Hingga saat ini sebagian ada yang berpendapat demikian. Walaupun, tentu saja, cukup mengherankan jika dalam waktu tidak sampai seperempat abad, jika memang benar, namanya sudah berubah dari Talaga Warna menjadi Talaga Rena Mahawijaya.

Petunjuk lain yang dapat diambil dari naskah itu adalah yang berhubungan dengan lembah Mandalawangi, yang oleh sebagian masyarakat juga dikenal dengan nama lembah Eyang Suryakencana. Bujangga Manik yang dengan sengaja berkunjung ke berbagai kabuyutan dan tempat suci hingga ke ujung timur Pulau Jawa dan Bali ternyata sama sekali tidak menyebutkan kabuyutan Eyang Suryakencana.

Apakah itu berarti bahwa ketika itu kabuyutan itu belum ada? Sesuatu yang juga sangat masuk akal mengingat, menurut tradisi rakyat setempat, Eyang Suryakencana adalah Raja Pajajaran yang terakhir. Artinya, jika itu dihubungkan dengan berita naskah Carita Parahyangan (1580) dan kemudian diperkuat oleh Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa Kulwan (1687) karya Pangeran Wangsakerta dan kawan-kawan dari Cirebon, terdapat kesesuaian juga.

Menurut kedua naskah itu, raja terakhir yang bernama Nu Siya Mulya “ia (baginda) yang mulia” memerintah selama 12 tahun (1567-1579). Berarti, ketika Bujangga Manik berkunjung ke Gunung Gede, Nu Siya Mulya atau yang Suryakencana belum menjadi raja, bahkan mungkin juga belum lahir. Karena itu, sangat wajar jika ia tidak mengenal kabuyutan yang memang diharapkan itu belum ada.

Alam di sekitar Gunung Gede-Pangrango ternyata merupakan makmal, ‘laboratorium’, alam untuk berbagai jenis tanaman. Hal itu menyebabkan para perintis botani pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, misalnya Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864), ahli botani keturunan Jerman yang berkelana di pegunungan Jawa Barat, meneliti fenomena alam tropis. Ia pun memperkenalkan tanaman kina dan membudidayakannya di daerah Lembang.

Selain Junghuhn, juga tercatat peneliti tanaman tropis di daerah pegunungan Jawa, termasuk Gede dan Pangrango, adalah G Forbes, Direktur Museum Botani di Liverpool, Inggris. Forbes tahun 1871 pernah berkelana di alam pegunungan Jawa Barat, dari Buitenzorg (Bogor) ke Bandung dengan kereta pos dengan kuda dan kerbau, semalam suntuk baru tiba di Bandung.

Kekayaan tanaman di pegunungan itu menyebabkan penguasa pada waktu itu lalu melakukan upaya perlindungan. Tindakan nyatanya adalah dengan menjadikan kawasan itu sebagai suaka alam dan kini menjadi Taman Nasional Gede-Pangrango.

Untuk memperlihatkan betapa bermaknanya kedua gunung itu bagi orang Sunda yang menganggap berasal dari Pajajaran, simaklah lirik lagu berikut ini:
“Gunung Gede siga nu nande/ nandean ka badan abdi/ Gunung Pangrango ngajogo/ ngadagoan abdi wangsul/ wangsul ti pangumbaraan/ kebo mulih pakandangan/ nya muncang labuh ka puhu/ anteurkeun ka Pajajaran”.

Terjemahan bebasnya, “Gunung Gede bagaikan menampung, menampung tubuh diriku; Gunung Pangrango menunggu, menanti aku kembali; aku pulang mengembara, bagai kerbau kembali ke kandangnya, bagaikan kemiri jatuh ke pangkal, antarkanlah daku ke Pajajaran”.

Begitu pun Kalipah Apo atau Ace Majid, ketika berada di puncak Gunung Halimun, ia bermadah, Laut Kidul kabeh katingali/ ngembat paul kawas dina gambar/ ari ret ka tebeh kaler/ Batawi ngarunggunuk/ lautna mah teu katingal/ ukur lebah-lebahna/ semu-semu biru/ ari ret ka kaler wetan/ Pangrango siga nu ngajak balik/ meh bae kapiuhan.

Terjemahan bebasnya, “Laut Kidul semua jelas terlihat, membiru bagaikan gambar, ketika memandang ke arah utara, Kota Betawi pun muncul, namun lautnya tak tampak, hanya perkiraan letaknya yang terlihat berwarna biru; ketika menoleh ke timur laut, Pangrango bagaikan mengajak pulang, aku pun hampir pingsan”.

Gunung Gede-Pangrango memang gunung kabuyutan di Tatar Sunda. Gunung yang menjadi taman nasional ini harap saja tetap menjadi “tempat suci” yang dijaga dan dilestarikan. Meski di seputarannya, penjarahan dan perusakan alam masih terus berlangsung, malah makin hebat dan membinasakan kalau tidak dicegah. Apa mampu?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mistis Di Gunung Raung

Selain besar, unik dan penuh dengan misteri, Gunung Raung berbeda dengan tipe gunung di jawa pada umumnya. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips sekitar 500 meter dalamnya, selalu berasap dan sering menyemburkan api dan terdapat kerucut setinggi kurang lebih 100m.





Gunung Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan. Gunung paling timur yang ada di pulau jawa ini, keindahannya dapat kita lihat dari pulau Bali, tepatnya ketika kita berada di pantai Lovina Singaraja Bali Utara pada akhir siang atau ketika sunset di Lovina Beach. Keindahan gunung raung ini akan terlihat indah. Jajaran pegunungan berapi di timur pulau jawa ini memiliki keindahan yang sangat unik. Gunung Raung sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. Semua itu mempunyai sejarah tersendiri hingga dinamakan demikian.

Pondok Sumur misalnya, katanya terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di Pondok Sumur ini, saat berkemah, juga terdengar suara derap kaki kuda yang seakan melintas di belakang tenda.

Selanjutnya Pondok Demit, disinilah tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, pada hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu.

Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.





Tak jauh dari Pondok Mayit, adalah Pondok Angin yang juga merupakan pondok terakhir atau base camp pendaki. Tempat ini menyajikan pemandangan yang memukau karena letaknya yang berada di puncak bukit, sehingga kita dapat menyaksikan pemandangan alam pegunungan yang ada disekitarnya. Gemerlapnya kota Bondowoso dan Situbondo serta sambaran kilat jika kota itu mendung, menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Namun, angin bertiup sangat kencang dan seperti maraung-raung di pendengaran. Karenanya gunung ini dinamakan Raung, suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita didasar jurang yang terjal.

Sebelah barat yang merupakan perbukitan terjal itu adalah lokasi kerajaan Macan Putih, singgasananya Pangeran Tawangulun. Di sini, juga sering terengar derap kaki suara kuda dari kereta kencana. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk kerajaan gaib itu.

Konon, di perbukitan yang mengelilingi kaldera itulah kerajaan Macan Putih berdiri. Sebuah kerajaan yang berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Beliau adalah salah-satu anak raja Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa di gunung. Keberadaan kerajaan itu sedikit banyak masih memiliki hubungan yang erat dengan penduduk setempat. Misalnya bila terjadi upacara pernikahan di kerajaan, maka hewan-hewan di perkampungan banyak yang mati. Hewan-hewan itu dijadikan upeti bagi penguasa kerajaan.

Menurut masyarakat setempat, seluruh isi dan penghuni kerajaan Macan Putih lenyap masuk ke alam gaib atau dikenal dengan istilah mukso. Dan hanya pada saat tertentu, tepatnya setiap malam jum’at kliwon, kerajaan itu kembali ke alam nyata.

Pangeran Tawangulun dipercaya merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jum’at itulah penguasa laut selatan mengunjungi suaminya. Biasanya, akan terdengar suara derap kaki kuda ditempat yang sakral. Suara tersebut berasal dari kereta kencana Sang Ratu yang sedang mengunjungi sang suami Pangeran Tawangulun.

Bila mendengar suara tersebut lebih baik pura-pura tidak mendengar. Jika dipertegas, suara akan bertambah keras dan mungkin akan menampak wujudnya. Bila demikian, kemungkinan kita akan terbawa masuk ke alam gaib dan kemudian dijadikan abdi dalem kerajaan Macan Putih.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Uhang Pandak" Orang Kerdil Gunung Kerinci Yang Masih Penuh Misteri





“Uhang Pandak” atau Orang Pendek, merupakan misteri sejarah alam terbesar di Asia. Keberadaan Orang Kerdil ini, telah memancing ahli binatang untuk mendaftarkan laporan kera misterius ini di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun.




Setiap daerah pasti memiliki kepercayaan tentang makhluk-makhluk “Bunian”. Di daerah Bengkulu, orang Bunian disebut "Sebabah" yang merupakan satu bentuk yang mirip dengan manusia, hanya saja mereka bertubuh kecil dan berkaki terbalik.




Lebih ke daerah pedalamannya lagi, ada juga kisah tentang makhluk “Gugua”, yang mempunyai perawakan berbulu lebat, pemalu, dan suka menirukan tingkah laku dan perbuatan manusia.




Konon pada zaman dahulu, makhluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap makhluk ini dengan menyiapkan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan makhluk ini dengan penduduk lokal, lalu mempunyai keturunan.
















Sampai hari ini, makhluk di gunung Kerinci yang dikenal sebagai “uhang pandak”, memiliki variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat. Sampai sekarang pun masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.




Orang pendek / uhang pandak ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia atau bunian) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun. Kerap kali muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi.




Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan uhang pandak hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorang pun yang tahu sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu.




Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan, bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut.
















Sekedar informasi, orang pendek ini masuk ke dalam salah satu studi Cryptozoology. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali dilakukan di Kawasan Kerinci, salah satunya adalah ekspedisi yang di danai oleh National Geographic Society.




National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di gunung Kerinci, Jambi. Bahkan, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.




Adapun cerita mengenai uhang pandak pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah gambar jejak, Marco Polo, 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos belaka oleh para ilmuwan, seperti halnya "Yeti" di Himalaya dan monster "Loch Ness" Inggris Raya.




Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki), tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm), dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.
















Legenda Mengenai Uhang Pandak sudah secara turun-temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat "Suku Anak Dalam". Mungkin bisa dibilang, suku anak dalam (Kubu) sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada.




Sejak dahulu, suku anak dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya.




Ada sebuah kisah mengenai keputusasaan para suku anak dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya, namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.




Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun, yang paling terkenal adalah kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.














Sosok Orang Pendek Laki-Laki Hasil Ilutrasi Gambar Sketsa Pensil


Dari W. Wheatcroft (Januari 2008)







Pada satu catatan, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Van Heerwarden sadar, mereka bukan sejenis siamang maupun primata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar.




Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.




Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang di danai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek.




Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan.
















Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan di biayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional. Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana.




Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi dimana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat, dimana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka.




Namun, akhirnya rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka, ketika hasil ekspedisi selama ini yang mereka lakukan, belum mendapat hasil yang memuaskan alias nihil.




Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan, bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?
















Banyak Paleontologiest mengatakan, bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang.




Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini, sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu.




Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki, dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana, serta telah mampu menciptakan api. Diperkirakan hidup antara 35000 – 18000 tahun yang lalu.




Apakah keberadaan “Uhang Pandak” benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya.
















Peneliti mengetahui, bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan, lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka, bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.




Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari makhluk halus, binatang, atau pun ras manusia yang berbeda. Dunia tentunya masih menyimpan misteri tentang mereka yang harus terus dilakukan penelitian keberadaannya.





Bukankah berbagai peninggalan dan kerangka makhluk setengah kera Homo Floresiensis baru-baru ini ditemukan? Menjadi bukti, bahwa ada suatu komunitas makhluk diluar manusia modern yang pernah ada. Bisa jadi, “Uhang Pandak” yang tersembunyi dan penuh misteri selama ini, suatu hari ditemukan. Waktu jualah yang akan menjawabnya.





Read more: http://mythdunia.blogspot.com/2012/06/uhang-pandak-orang-kerdil-gunung.html#ixzz2z2aTZBvV

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing di Indonesia

1492


Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Tak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, sampai beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Jadi mereka memanjat karena dipaksa oleh mata pencaharian, kurang lebih mirip para pengunduh sarang burung walet gua di tebing-tebing Kalimantan Timur atau Karang Bolong, Jawa Tengah.


1623

Yan Carstensz adalah orang Eropa pertama yang melihat “….. pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju !” di pedalaman Irian. Salju itu sangat dekat ke khatulistiwa. Laporannya tak dipercaya di Eropa, padahal belum lama berselang diberitakan ada juga salju di Pegunungan Andes dekat khatulistiwa.


1624

Masih berkaitan dengan pekerjaan juga, pastor-pastor Jesuit merupakan orang-orang Eropa pertama yang melintasi Pegunungan Himalaya, tepatnya Mana Pass (pass = pelana/punggungan yang terentang antara dua puncak), dan Garhwal di India ke kawasan Tibet.


1760

Profesor de Saussure agaknya begitu jatuh cinta pada Mont Blanc di perbatasan Perancis-Italia, sehingga dia menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menemukan lintasan ke puncaknya, untuk penyelidikan ilmiah yang diimpikannya. Sayang tak ada yang tertarik, terutama karena keder terhadap naga-naga yang konon mbaurekso di puncak gunung tertinggi di Eropa Barat itu.


1786

Setelah beberapa percobaan gagal, Puncak Mont Blanc (4807 m) digapai manusia. Mereka adalah Dr.Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacques Balmat. Puncak tertinggi di Alpen yang didaki sebelumnya adalah Lysjoch (4153 m), tahun 1778.


1830

Alexander Gardiner melintasi Pelana Karakoram dari Sinkiang di Cina ke wilayah Kashmir di India.


1852

Ahli-ahli ukur tanah di India berhasil menentukan ketinggian Puncak XV, 8840 meter. Berarti puncak tertinggi di dunia, mengalahkan Puncak VIII (Kangchenjunga, 8598 m) yang sebelumnya dianggap paling tinggi. Puncak XV itu lalu diberi nama Everest (padahal aslinya orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma kata orang Tibet). Belakangan ketinggiannya dikoreksi, 8888 meter, lalu dikoreksi lagi menjadi 8848 meter, sampai sekarang.


1854

Batu pertama Zaman Keemasan dunia pendakian di Alpen, diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke Puncak Wetterhom (3708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.


1857

Alpine Club yang pertama berdiri, di Inggris.


1858

Ketinggian K2 (singkatan Karakoram nomer 2) terukur, 8610 meter, menggeser lagi kedudukan Kangchenjunga menjadi juara tiga.


1865

Dinding selatan Mont Blanc dipanjat untuk pertama kali lewat lintasan Old Brenva, menandai lahirnya panjat es (ice climbing). Sementara itu di Alpen bagian tengah, Edward Whymper dan enam rekannya berhasil menggapai Puncak Matterhorn (4474 m)di Swiss. Tetapi 4 anggota tim, yang saling terikat dalam satu tali, tewas dalam perjalanan turun, ketika salah seorang terpeleset jatuh dan menyeret yang lain. Musibah ini mengakhiri 11 tahun Zaman Keemasan. Tak urung lebih dari 180 puncak besar telah didaki dalam masa itu, sedikitnya satu kali, dan lebih dari setengahnya oleh orang-orang Inggris.


1874

WA Coolidge mendaki Puncak Jungfrau dan Wetterhorn di musim dingin, sehingga digelari Bapak Winter Climbing. Pada tahun 1870-an ini muncul trend baru, pendakian tanpa pemandu, yang segera menjadi ukuran kebanggaan di antara pendaki.


1878

Regu yang dipimpin Clinton Dent berhasil memanjat Aiguille du Dru di Perancis, memicu trend baru lagi, yaitu pemanjatan tebing-tebing yang tak seberapa tinggi namun curam dan sulit.


1883

WW Graham menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Pegunungan Himalaya dengan tujuan mendaki gunung sebagai olahraga dan petualangan. Dia mendaki beberapa puncak rendah di kawasan Nanda Devi dan Sikkim India, bahkan konon berhasil mencapai Puncak Changabang (6864 m).


1895

Percobaan pertama mendaki gunung berketinggian di atas 8000 meter, Nanga Parbat (8125 m), oleh AF Mummery. Orang Inggris yang sering disebut Bapak Pendakian Gunung Modern ini hilang pada ketinggian sekitar 6000 meter.


1899

Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz, yang dibuat hampir 3 abad sebelumnya. Maka namanya diabadikan di situ.


1902

Percobaan pertama mendaki K2, oleh ekspedisi dari Inggris.


1907

Ekspedisi di bawah Tom Longstaff mendaki Trisul (7120 m), puncak 7000-an yang pertama. Longstaff adalah orang pertama yang mencoba penggunaan tabung oksigen dalam pendakian.


1909

Ekspedisi Persatuan Ahli Burung dari Inggris (BPUE) memasuki rawa-rawa sebelah selatan kawasan Carstensz. Dalam 16 bulan mereka kehilangan 16 orang anggota mati dan 120 sakit.


1910

Karabiner buat pertama kali dipakai dalam pendakian gunung, diperkenalkan oleh pemanjat-pemanjat dari Munich, Jerman Barat, diilhami oleh penggunaannya dalam pasukan pemadam kebakaran.


1912

Eks anggota ekspedisi BPUE 1090, Dr.AFR Wallaston, kembali ke Irian bersama C.Bodden Kloss, dengan 224 kuli pengangkut barang dan serdadu. Tiga jiwa melayang.


1921

George L.Mallory dkk. berhasil sampai di North Col Everest dalam perjalanan penjajagan mereka dari sisi Tibet.


1922

Usaha pertama mendaki Everest berakhir pada ketinggian 8320 meter di punggungan timur laut.


1924

Mallory dan Irvine yang kembali mencoba Everest, hilang pada ketinggian sekitar 8400 meter. Rekannya, Edward Norton, mencapai 8570 meter, rekor waktu itu, sendirian dan tanpa bantuan tabung oksigen.


1931

Schmid bersaudara mencapai Puncak Matterhorn lewat dinding utara, sekaligus melahirkan demam North Wall Climbing. Peningkatan taraf hidup di Inggris dan Eropa daratan pada umumnya, menimbulkan perubahan pola penduduk kota melewatkan waktu luangnya, menyebabkan populernya panjat tebing.


1932

Grivel memperkenalkan cakar es (crampoon) model 12 gigi, yang karena efektifnya tetap disukai hingga kini.


1933

Comici dari Italia memanjat overhang dinding utara Cima Grande Lavredo di kawasan Dolomite, Alpen Timur, menandai aid climbing yang pertama. Sekitar tahun ini pula sol sepatu Vibram ditermukan oleh Vitale Bramini.


1936

Dr.A.H.Colijn, manajer umum perusahaan minyak Belanda dekat Sorong, dan geolog DrJ.J.Dozy, menemukan bijih tembaga di kawasan dinding timur Gletser Moriane, tak jauh dari kawasan Carstensz, Irian.


1937

Bill Murray mengubah tongkat pendaki yang panjang menjadi kapak es, menandai lahirnya panjat es modern.


1938

Dinding utara Eiger di Swiss akhirnya berhasil dipanjat, oleh tim gabungan Jerman Barat dan Austria, yang oleh Hitler diiming-imingi dengan medali emas olympiade. Dinding maut ini sebelumnya telah menelan cukup banyak korban, dan berlanjut hingga kini. .


1941

Ekspedisi Archbold ‘menemukan’ Lembah Baliem, kantung suku Dani dengan tingkat kebudayaan yang amat tinggi, di tengah belantara yang seolah tak berbatas dan tak tertembus. Irian kian jadi perhatian ilmuwan-ilmuwan dunia.


1949

Nepal membuka perbatasannya bagi orang luar.


1950

Tibet dicaplok Cina. Pendakian Himalaya dari sisi ini tak diperkenankan lagi. Maurice Herzog memimpin ekspedisi Perancis mendaki Annapurna (8091m), puncak 8000-an yang pertama, menandai awal 20 tahun Zaman Keemasan pendakian di Himalaya. Di Alpen, tali nilon mulai dipergunakan. Sebelumnya, tali serat tumbuhan hampir tak memiliki kelenturan, sehingga ada ‘hukum’ bahwa seorang leader tak boleh jatuh, sebab hampir pasti pinggangnya patah tersentak. Pakaian bulu angsa mulai membuat malam-malam di bivouac lebih nyaman.


1951

Don Whillan menemukan pasangannya, Joe Brown, duet pemanjat terkuat yang pemah dimiliki Inggris. Panjat bebas (free climbing) gaya Inggris menjadi tolok ukur dunia panjat tebing. Walter Bonatti dkk. menyelesaikan dinding timur Grand Capucin, awal aid climbing pada tebing yang masuk kategori big wall.

Bermula di Inggris, terjadi Revolusi Padas. Tebing batu gamping ternyata tak serapuh yang selama itu disangka. Tebing-tebing granit dan batuan beku lainnya mendapat saingan.


1952

Herman Buhl solo di dinding timur laut Piz Badile di Swiss, dalam waktu 4 1/2 jam. Inilah nenek moyang speed climbing. Rekor waktu pada rute tersebut, yang dibuat tahun 1937, 52 jam !


1953

Herman Buhl dkk. menggapai Puncak Nanga Parbat (8125 m), puncak 8000-an kedua yang didaki orang. Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris, menjadi manusia-manusia pertama yang berdiri di puncak atap dunia, Everest.


1954

Ekspedisi Inggris sukses di Kangchenjunga, ekspedisi Perancis sukses di Makalu (8463 m). Di Alpen, Don Whillan dan Joe Brown mencatat dinding Barat Aiguille du Dru dalam 2 hari, rekor lagi.


1955

Walter Bonatti solo pilar barat daya du Dru 6 hari.


1956

Ekspedisi Jepang berhasil mendaki Manaslu (8163 m). Jepang segera menjadi salah satu negara besar dalam dunia pendakian di Himalaya.


1957

Herman Buhl dan tim Austria mencapai Puncak Broad Peak (8047 m), sekaligus mematok pendakian pertama gunung 8000-an dengan alpine tactic.


1958

Lapangan terbang perintis dibuka pada beberapa lokasi di Irian, membangkitkan semangat para pendaki gunung untuk menjajal Carstensz, sang perawan salju di khatulistiwa.


1960

Claudio Barbier dari Belgia solo ketiga dinding utara di Tre Cima Laverdo dalam 1 hari. Pertama kali speed climbing menggunakan teknik gabungan free dan aid climbing.

Helm mulai sering digunakan para pemanjat tebing.

Harness menjadi wajib, menyusul kematian seorang pemanjat Inggris di Dolomite. Harness pertama yang diproduksi massal dan dijual untuk umum terbuat dari webbing, merek Tankey.

Tebing 48 Citatah mulai digunakan sebagai ajang latihan bagi pasukan Angkatan Darat kita.


1961

Ekspedisi dari Selandia Baru coba mendaki Carstensz Pyramide tapi mengalami kegagalan sebab keterlambatan dukungan logistik lewat jembatan udara.


1962

Puncak Cerstensz Pyramide akhirnya berhasil digapai oteh tim Heinrich Heiner. Juga Puncak Eidenburg didekatnya, oleh ekspedisi yang dipimpin oleh Phillip Temple.

Awal pemakaian baut tebing di Alpen; Tebing pantai mulai diminati. Pemanjat Amerika Serikat mulai bicara di Alpen, diawali Hemmings dan Robbins yang menciptakan lintasan super sulit di dinding barat du Dru.


1963

Tim gabungan Inggris-AS memanjat dinding selatan Aiguille du Fou, hardest technical climbing di Alpen waktu ilu, dengan teknik-teknik aid climbing gaya AS. Kode etik dalam panjat tebing mulai banyak diperdebatkan di rumah-rumah minum. Pemanjatan solo pertama Eiger Nordwand, oleh Michel Darbellay, dalam satu hari.

Bonatti dan Zapelli menyantap mix climbing (ice dan rock) tersulit di Alpen, dinding utara Grand Pilier d’Angle di Mont Blanc. Seorang ahli gletser yang baru kembali dari Antartika berusaha mendaratkan pesawat terbangnya di di Puncak Jaya, dekat Carstensz. Untung angin kencang mengurungkan niatnya, sebab salju tebal di sana terlalu lunak sebagai landas pacu. Tapi buntutnya, dua pesawat DC 3 kandas di lereng utara dan selatannya, pada ketinggian sekitar 4300 meter.


1964

Ekspedisi Cina berhasil mendaki Shisha Pangma (8046 m)di Tibet, satu-satunya puncak 8000-an yang terletak diluar Nepal dan Pakistan (Karakoram). Beberapa pendaki Jepang serta 3 orang ABRI, Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Carstensz (4884 m) di Irian. Dua perkumpulan pendaki gunung tertua lahir, Mapala Ul di Jakarta dan Wanadri di Bandung. Tahun ini dianggap awal sejarah pendakian gunung di Indonesia.


1965

Seratus tahun pendakian pertama Matterhorn diperingati dengan peliputan pendakian Hornli dkk. Oleh BBC/TV sampai ke puncak. Untuk pertama kalinya pendakian gunung maupun panjat tebing menjadi olahraga yang juga dapat ‘ditonton’ orang banyak.

Robbins dan John Harlin dri AS bikin lintasan lurus di dinding barat du Dru, mendemonstrasikan keunggulan pemanjat AS dalam pemanjatan panjang dan berat. Pemerintah Nepal menutup pendakian Himalaya di wilayahnya.


1967

Revolusi bagi para pemanjat es. Chouinnard memperkenalkan kapak es berujung lengkung, dan McInnes menawarkan jenis Terodactyl. Lahirnya sekrup es berbentuk pipa meningkatkan standar pemanjatan ice climbing.

Penggunaan tali kernmantle dipelopori oleh Inggris.


1968

Nafas segar bagi para pendaki, sejumlah lapangan terbang milik misi Katolik dibuka (Ji Irian. Tapi dasar sial, hampir bersamaan dengan itu Pemerintah Rl tidak lagi mengeluarkan izin pendakian di kawasan Carstensz.


1969

Reinhold Messner keluar dari pertapaannya di tebing-tebing Alpen Timur, meluruk ke barat, menyikat dinding es raksasa tes Drotes dalam waktu 81/2 jam solo, membuyarkan rekor sebelumnya, 3 hari.

Pemanjat-pemanjat Jepang mulai membanjiri pasaran di Alpen, antara lain bikin lintasan baru di Eiger.

Sensus yang dilakukan British Mountaineering Club (BMC) mengatakan, ada 45.000 pemanjat dan 500.000 walkers, di Inggris saja.

Nomer perdana majalah ‘Mountain’ beredar, menjadi media pendaki gunung dan pemanjat tebing pertama yang beredar luas dalam bahasa Inggris, sehingga banyak mempengaruhi perkembangan lewat perdebatan dan opini.

Pemerintah Nepal membuka kembali wilayahnya bagi pendakian Himalaya, dengan beberapa peraturan baru dan membatasi pendakian pada puncak-puncak yang terdaftar dalam permitted peaks saja. Agen-agen trekking komersial tumbuh dan berjibun seperti kutu yak, menggelitik kelompok-kelompok kecil dari luar ‘main-main’ di Himalaya dengan mudah dan murah.

Soe Hok Gie dan ldhan Lubis gugur di Gunung Semeru, terkena gas beracun.


1970

Dinding Selatan Annapurna dirambah tim Inggris, menggunting pita pembukaan era pendakian jalur-jalur sulit di gunung-gunung besar. Tingkat kesulitan lintasan menjadi lebih penting dari pada sekedar mencapai puncak. Ini tak lepas dari kian canggihnya perlengkapan panjat es, kecepatan pemanjatan meningkat drastis.

Di Alpen artificial climbing tambah populer dan kaya teknik. Kurang lebih tahun ini pula lahir cabang panjat dinding. Tebing buatan yang pertama dikenal orang kemungkinan besar didirikan di Universitas Leeds,Inggris. Perancangnya Don Robinson, yang kemudian juga merancang dinding panjat di Acker’s Trust, Birmingham, dinding panjat pertama yang diklaim mampu menampung segala pegangan, pljakan dan gerakan panjat tebing, sekaligus menawarkan bentuk sculpture yang artistik.

Sejalan dengan itu, bentuk-bentuk latihan terpisah dalam panjat tebing mulai menggema. Salah seorang pelopornya ialah Pete Livesey, pemanjat yang juga pecinta speleologi dan olahraga kano, serta punya dasar di atletik sebagai pelari. Pete tahu benar pentingnya latihan spesifik bagi jenis-jenis olahraga tersebut. Dan dia mencoba menerapkan prinsip yang sama pada panjat tebing. Pelan tapi pasti, panjat tebing mulai dipandang lebih sebagai kegiatan atletis, ketimbang sekedar ‘hura-hura di tebing’. Tak lagi memadai semboyan ‘best training for climber is climbing’, apalagi hanya dengan memupuk kejantanan lewat gelas-gelas bir, seperti yang selama & dianut.


1971

Kawasan Carstensz kembali dibuka untuk pendakian, segera diserbu oleh ekspedisi-ekspedisi dari Australia, Jerman, AS, bahkan Hongkong. Tahun ini pula Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya, antara lain oleh Herman O. Lantang dan Rudy Badil, orang-orang sipil Indonesia pertama.


1972

Untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam Olympiade Munich.


1974

Pasangan Reinhold Messner dan Peter Habeler mendaki Hidden Peak (8068 m) di Karakoram, 3 hari dengan Alpine push, kemudian memecahkan rekor kecepatan Eiger, 10 jam.


1975

Ekspedisi dari Jepang menjadi tim wanita pertama yang menjejakkan Puncak Everest. Sementara itu Cina mengirimkan tim pertamanya, dari punggungan timur laut. Perlengkapan panjat es kian lengkap, lalu ramalan cuaca kian akurat dengan intervensi komputer. Akibatnya, seolah tak ada lagi pelosok Alpen yang terpencil.

Namun, bercak-bercak kapur magnesium mulai terasa merisihkan tebing-tebing di Inggris dan Eropa daratan, kebanyakan dituduhkan sebagai ulah pemanjat-pemanjat ‘hijau’, yang mengobral magnesium pada lintasan-lintasan yang seharusnya bisa dilampaui tanpa bubuk itu.


1976

Harry Suliztiarto tak sanggup lagi menahan obsesinya, dengan tali nilon dia mulai latihan panjat memanjat di Citatah, dan dibelay oleh pembantu rumahnya. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.


1977

Skygers Amateur Rock Climbing Group didirikan di Bandung oleh Harry Suliztiaito, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, Deddy Hikmat. Inilah awal tersebarnya kegiatan panjat tebing di Indonesia.

Ekspedisi Selandia Baru coba mendaki Everest tanpa bantuan sherpa. Mereka cuma sampai South Col, tapi mereka mereka seolah memukul gong yang gaungnya merantak ke mana-mana, ‘ekspedisi berdikari’. Yang pro mengganggapnya sebagai kejujuran yang wajib, yang kontra melecehkannya sebagai kesia-siaan yang konyol. Perdebatan tak selesai hingga kini.


1978

Messner & Habeler menggegerkan dunia kangouw Himalaya dengan pendakian Everest tanpa bantuan tabung oksigen. Tambah geger ketika Messner bersolo karier di Nanga PQrtied dalam waktu 12 hari. Pendakian solo ini oleh banyak pakar dianggap lebih penting daripada pendakian tanpa oksigennya.

Pemerintah Nepal menambahkan beberapa permitted peaks.


1979

Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium, Taman Ismail Marzuki.


1980

Tebing Parang untuk pertama kalinya oleh tim ITB, di bawah pimpinan Harry Sulisztiarto. Wanadri untuk pertamakalinya menyelenggarakan ekspedisi ke Carstensz di Pegunungan Jayawijaya. Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing untuk pertama kalinya. Sampai kini belum ada lagi kelompok yang membuat pendidikan panjat tebing untuk umum seperti ini.


Pemerintah Nepal membuka kesempatan pendakian musim dingin, di samping musim semi dan musim gugur. Kian banyak kaki meratakan jalan-jalan setapak dipelbagai pelosok Himalaya, kikan tinggi sampah menumpuk di sana-sini. Sebagai gantinya, konon mata uang asing makin deras mengalir ke sana. Tapi siapa yang tambah kaya?


1981

Dua ekspedisi Indonesia sekaligus di dinding Selatan Carstensz, Mapala Ul dan ITB. Salah seorang anggota tim Mapala Ul, Hartono Basuki, gugur di sini. Jayagiri dari Bandung mengirimkan Danardana mengikuti sekolah pendaki gunung di Glenmore Lodge, Skotlandia, dilanjutkan pendakian Matterhorn di Swiss.


1982

Jayagiri kembali mengirimkan orang, Irwanto, ke sekolah pendakian di ISM, Swiss, dilanjulkan ekspedisi 4 orang ke Mont Blanc di Perancis, dan Matterhorn serta Monte Rosa di Swiss.

Ahmad dari kelompok Gideon Bandung tewas terjatuh di Tebing 48 Citatah, korban pertama panjat tebing di Indonesia.


1984

UGM (Mapagama) mengirimkan Tim Ekspedisi Gajah Mada ke Irian Jaya. Tim panjatnya berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramide melalui jalur normal.

Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur, serta tebing pantai Uluwatu di Bali, berhasil dipanjat oleh kelompok Skygers bersama GAP (Gabungan Anak Petualang) dari Surabaya.


1985

Tebing Serelo di Lahat, Sumatra Selatan, berhasil dipanjat oleh tim yang menamakan dirinya Ekspedisi Anak Nakal. Ekspedisi Mapala Ul gagal mencapai Puncak Chulu West (6584 m) di Himalaya, Nepal. Ekspedisi Jayagiri gagal memanjat Eiger Nordwand.


1986

Kelompok gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di selatan Toraja, Sulawesi Selatan.

Ketompok UKL (Unit Kenal Lingkungan) Univeritas Pajajaran Bandung memanjat tebing Gunung Lanang di Jawa Timur.

Pemanjat-pemanjat Jayagiri Bandung merampungkan Dinding Ponot di air terjun Sigura-gura, Sumatera Utara.

Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berthasil, menciptakan lintasan baru. Mapala Ul mengirimkan ekspedisi ke Puncak Kilimanjaro (5895 m) di Afrika antara lain Don Hasman (Wartawan Mutiara).

Kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet, di tebing alam, dan sempat ditayangkan juga oteh TVRI.


1987

Empat Anggota Ekspedisi Aranyacala Universitas Trisakti tewas diserang Gerombolan Pengacau Irian dalam perjalanan menuju Jayawaijaya.

Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Batu Unta di Kalimantan Barat. Kelompok Trupala memanjat tebing Bukit Gajah di Jawa Tengah. Sepikul di Jawa Timur disantap Skygers.

Beberapa ekspedisi dan pendaki Indonesia dikirimkan keluar negeri. Mapala Ul ke Puncak Chimborazo (6267 m)dan Cayambe (gagal) di Pegunungan Andes, Amerika Selatan.

Ekspedisi Wanita Indonesia Mendaki Himalaya ke lmja Tse, Himalaya, hampir bersamaan dengan dua anggota Ekspedisi Jayagiri Saddle Marathon yang sedianya berambisi memanggul sepeda ke puncak namun terhadang birokrasi Nepal. Di Afrika, ekspedisi sepeda ini berhasil mencapal puncak tertingginya, Kilimanjaro (5895 m) dan Mount Kenya (5199 m, tanpa sepeda).

Ekspedisi Wanadri gagal mencapai Puncak Vasuki Parbat (6792 m) di Garhwal Himalaya, India.

Lomba panjat tebing pertama di Indonesia dilaksanakan di tebing pantai Jimbaran di Ball.


1988

Dinding panjat buat pertama kali diperkenalkan di Indonesia, dibawa oleh 4 atlet pemanjat Prancis yang diundang atas kerjasama Kantor Menpora dengan Kedubes Perancis di Jakarta. Mereka juga sempat memberikan ilmu lewat kursus singkat kepada pemanjat-pemanjat kita. Bersamaan, lahir Federasi Panjat Gunung & Tebing Indonesia, diketuai Harry Suliztiarto.

Untuk pertama kalinya disusun rangkaian kejuaraan untuk memperebutkan Piala Dunia Panjat Dinding yang direstui dan diawasi langsung oleh UIAA (badan Internasional yang membawahi federasi-federasi panjat tebing dan pendaki gunung), diawali dengan kejuaraan di Snowbird, Utah, AS.

Ekspedisi panjat tebing pertama yang dilakukan sepenuhnya oleh wanita, Ekspedisi Putri Parang Aranyacala, Tower III. Sedangkan kelompok putranya memanjat Tebing Gunung Kembar di Citeureup, Bogor.

Ekspedisi UKL Unpad Bandung di Batu Unta, Kalbar, kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang jatuh bebas. Speed climbing pertama di Indonesia dilakukan oleh Sandy & Jati, di dinding utara Parang, 3 jam. Sekaligus merupakan pemanjatan big wall pertama tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali, keduanya hanya dihubungkan dengan tali.

Lomba panjat ‘tebing buatan’ pertama dilakukan di Bandung, mengambil dinding gardu listrik.

Ekspedisi Wanadri berhasil menempatkan 3 pendakinya di Puncak Pumori (7145 m) di Himalaya, Nepal, disusul pasangan Hendricus Mutter dan Vera dari Jayagiri mendaki Imja Tse (6189 m), tanpa bantuan sherpa.

Lalu di Alpen, Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing gagal memenuhi target waktu 2 hari pemanjatan dinding utara Eiger, mulur menjadi 5 hari. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru di dinding yang sama.

Di Yosemite, AS, Sandy Febyanto dan Jati Pranoto dari Jayagiri memanjat Tebing Half Dome (gagal memecahkan retor John Bachar & Peter Croft 4,5 jam) dan Tebing El Capitan (gagal memecahkan rekor 10,5 jam).


1989

Awal tahun dunia panjat tebing Indonesia merunduk dilanda musibah, gugurnya salah satu pemanjat terbaik Indonesia, Sandy Febyanto, jatuh di Tebing Pawon, Citatah. Tapi tak lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan prestasi panjat tebing di Bumi Pertiwi ini.

Tim Panjat Tebing Yogyakrta/TPTY melakukan ekspedisi ke Dinding Utara Carstensz tetapi gagal mencapai puncak secara direct, namun jalur normal Carstensz berhasil dipanjat sebelumnya.

Kembali kawasan Citeureup dirambah anak Aranyacala, kali ini Tebing Rungking.

Arek-arek Young Pioneer dari Malang memanjat tebing Gajah Mungkur di seputaran dalam kawah Gunung Kelud. Kemudian tim Jayagiri dalam persiapannya ke Lhotse Shar di Nepal, mematok target memanjati semua pucuk-pucuk tebing sekeliling kawah Kelud tadi, tapi tak berhasil. Ekspedisi Lhotse Shar itu sendiri batal berangkat.

Tebing Uluwatu dipanjat ekspedisi putri yang kedua, dari Mahitala Unpar.

Kelompok MEGA Universitas Terumanegara melakukan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing, beruntun di tebing-tebing Citatah, Parang, Gajah Mungkur, dan berakhir di Uluwatu, dalam waktu hampir sebulan, marathon panjat tebing pertama di Indonesia. Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala dia Bambapuang, tapi musibah menimpa sebelum puncak tergapai. Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian.

Tahun ini tercatat tak kurang dari sepuluh kejuaraan panjat dinding diselenggarakan di Indonesia. Beberapa yang besar antara lain di Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Trisakti Jakarta, ISTN Jakarta, di Markas Kopassus Grup I Serang, dua kali oleh Trupala SMA-6 (di Balai Sidang dan Ancol), lalu SMA 70 Bulungan Jakarta, kelompok KAPA FT Ul, Geologi ITB.

Mapala Ul bikin 2 ekspedisi, Mount Cook (3764 m) di Selandia Baru dan Puncak McKinley (6149 m) di Alaska. Empat anggota Wanadri mengikuti kursus pendakian gunung es di Rainier Mountaineering Institute di AS, dilanjutkan dengan bergabung dengan ekspedisi AS ke Kangchenjunga di Himalaya.

Di Alpen, Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia berhasil pula merampungkan misinya, mendaki 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa, Mont Blanc (4807m, Perancis), Grand Paradiso (4601 m, Italia), Marts Rosa (4634 m, Swiss), Grossgiockner (3978 m, Austria) dan Zugsptee (2964 m, Jerman Barat).

Akhir tahun ini ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono melakukan pemanjatan solo di Tower III Tebing Parang. Artificial solo climbing pada big wall yang pertama di Indonesia.


1991

Aryati menjadi wanita Asia pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Annapurna IV, Himalaya, pada Ekspedisi Annapurna Putri Patria Indonesia.

Tim Srikandi Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur di Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur.


1992

Dunia petualangan Indonesia kembali berduka karena kehilangan dua orang terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, anggota Mapala UI tewas di terjang badai di Gunung Aconcagua, Argentina.

Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia menjejakkan kakinya di Puncak Tebing Cima Ovest, Tre Cime, Italia.

Ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.


1996

Clara Sumarwati membuat kontroversi dalam pendakiannya di Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya pada tanggal 26 September 1996. Banyak pihak di Indonesia yang meragukan bahwa kedua kakinya telah menjejak puncak tertinggi di dunia itu. Tetapi berdasarkan data dari Adventure Stats.com pada bulan Januari 2002 nama Clara Sumarwati telah tercatat sebagai pendaki Everest ke 836.


1997

Pratu Asmujiono menyusul Clara menjejakkan kakinya di Puncak Everest pada tanggal 26 April. Menurut catatan Adventure Stats.com, ia merupakan orang yang ke 851. Asmujiono berangkat bersama tim Ekpedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan anggota Kopassus dan pendaki sipil lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah seorang pendaki gunung

Suara hati kita begitu lembut, sehingga mudah untuk mengabaikannya..tetapi juga begitu jelas sehingga tidak mungkin keliru

Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap Kisah seorang pendaki gunungmelakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner (pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat, persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.
Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.
Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.
Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. Ia tak tahu dimana ia berada.
Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.
Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. “Potong tali itu…. potong tali itu.”
Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa…
Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja….
Sumber : Kisah – kisah Inspiratif

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Para Legenda Pendaki Gunung


Para legenda pendaki gunung adalah manusia – manusia pendaki gunung sepanjang sejarah yang tidak akan berhenti untuk mendaki sampai ajal mereka datang. Manusia sebagai penghuni planet ini memang memiliki hasrat yang besar untuk berpetualang, keinginan dan ketidakpuasan beberapa manusia mendorong untuk melakukan hal – hal yang tidak biasa dan mustahil untuk dilakukan oleh manusia lainnya.





Gunung merupakan salah satu saksi bisu semangat Para Legenda Pendaki Gunung,petualangan dan hasrat ketidakpuasan manusia di Bumi. Pakar sejarah manusia telah mencatat banyaknya sejarah pendakian Gunung yang telah dilakukan oleh manusia sepanjang sejarah, diantaranya :


Pada tahun 1911, Robert Scott ( Inggris ) dan Roald Amundsen ( Norwegia ) berlomba untuk menjadi pendaki Gunung pertama yang mencapai Kutub Selatan. Satu orang akan menang, yang lainnya akan mati. Scott, seorang kapten angkatan laut Inggris, dalam perjalanannya membawasepatu es, makanan, air dan kuda poni.


Kuda – kuda poni ternyata menjadi ide yang buruk; satu demi satu meninggal karena membeku, Scott dan orang – orangnya terpaksa menyeret barang mereka sendiri. Ketika kruScott akhirnya mencapai Kutub Selatan pada hari ke – 78, mereka disambut oleh pemandangan yang mengerikan: sebuah bendera Norwegia milik Amundsen telah ditanam di dalam es 33 hari sebelumnya.






Robert Scott Dan Roald Amundsen



Perjalanan pulang mereka, Scott dan rombongan “sakit hati”nya berjalan di melalui gurun beku, membeku dan sering mengigau. Setelah terperangkap dalam badai salju yang ganas, Scott dan anak buahnya mati kelaparan, di tempat yang hanya berjarak 11 mil ( 18 km ) dari suplai depot mereka.Sebaliknya, perjalanan sukses Amundsen praktis lancar. Sebuah penghargaan untuk ketelitian perencanaan dan pelaksanaan tanpa kecelakaan yang fatal.


Pada Mei 1953, Edmund Hillary, seorang peternak lebah Selandia Baru berpaling menjadi seorang pendaki Gunung, menjadi orang pertama yang mencapai puncak Gunung tertinggi di dunia.


Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay, mitranya mendaki ke puncak berlomba dengan sepasangpendaki Gunung lainnya, Charles Evans dan Tom Bourdillon, yang akhirnya terpaksa kembali pada jarak vertikal hanya 300 meter dari puncak.






Hillary Dan Tenzing Norgay



Sengit melawan angin, suhu di bawah 0 C dan longsoran es yang berbahaya, Hillary dan Norgay terus menekan ke puncak, 29.028 kaki ( 8.848 Mdpl ) dan berhasil. Sejak saat itu, ratusanpendaki Gunung mengikuti jejak mereka, tetapi Hillary akan selamanya dikenal sebagai orang yang pertama ke puncak dunia.


Pada tahun 1979, Sir Ranulph Fiennes bersama rekan setimnya Oliver Shepard dan Charlie Burton sebagai manusia pertama yang mengelilingi Bumi melewati kedua kutubnya. Perjalanan amat berat sejauh 110.000 mil atau sekitar 200.000 km untuk menuju tempat dengan kondisi paling ekstrem.


Disebut ekstrem karena dalam kondisi ‘normal’ saja suhu di wilayah kutub mencapai -50 derajat C. Sekedar bandingan, suhu rata – rata di Indonesia adalah 30 derajat C. Tentu Anda masih ingat pelajaran fisika dasar bahwa air membeku pada suhu 0 derajat C.






Sir Ranulph Fiennes



Akan tetapi, itu belum seberapa, karena apabila terjadi badai yang biasanya disertai angin kencang, suhu di kutub bisa drop hingga -84o C bahkan lebih.


Pada tahun 1984, ia tercatat dalam the Guinness Book of World Records.persimpangan Antartika dan menemukan kota yang hilang di Ubar Oman, yang telah dikuburkan dalam pasir untuk hampir 2000 tahun. Pada tanggal 20 mei 2009, dalam Usia 65 tahun ia sukses mencapai puncak Everest dan mencatatkan diri sebagai orang tertua yang sukses mencapai puncak gunung Everest.


Pada tahun 1999, Afrika Selatan petualang modern Mike Horn ditetapkan untuk mengelilingi dunia sepanjang Khatulistiwa tanpa penggunaan kendaraan bermotor. Lintang Zero ekspedisiyang dimulai di Gabon, dari Horn yang melintasi Samudera Atlantik di delapan meter trimaran.


Dia traversed Amerika Selatan dan Afrika pada kaki oleh sepeda gunung. Sejak menyelesaikan Lintang Zero ekspedisi, Horn telah mencapai Kutub Utara dengan berjalan kaki dan naik dua puncak 8.000 meter. Saat ini ia memimpin Pendaki Gunung Pangaea Expedition, empat tahun ekspedisi pemuda di seluruh dunia yang ditujukan untuk meningkatkan perlindungan lingkungan dan konservasi sumber daya alam.






Ed Viesturs



Ed Viesturs, a high – altitude mountaineer, tidak takut untuk mencapai puncak. Dalam upaya pertama untuk mendaki puncak gunung Everest, ia berpaling hanya sekitar 300 kaki pendek dari atas, karena kondisi yang tidak ideal.


Viesturs memiliki motto: “Getting to the top is optional, getting to the bottom is mandatory.” Ini dia yang memiliki reputasi sebagai pendaki Gunung paling bertakwa. Namun, ia telah menyelamatkan hidupnya lebih dari sekali dan tidak mencegah dia untuk mencapai tujuan itu. Pada tahun 2005,Viesturs menjadi orang Amerika yang pertama dan menjadi ke 14 dari seluruh dunia mencapai puncak 8000 meter.


Pendaki Gunung ini keduanya berusia 21 tahun, Pada tahun 2008, National Geographic Society memberi nama “Adventure of the Year” dengan menyelesaikan perjalanan sejauh 22.000 mil dari Utara magnetis ke magnetis Selatan Poles.


Mereka hanya manusia dan dengan kekuatan alam untukmencapai prestasi in, melaluidogsledding Greenland, bersepeda melalui Amerika dan berlayar ke Antartika. Di atas kenyataan bahwa ekspedisi ini tidak pernah dicoba oleh siapapun sebelumnya, tidak pernah ada sebelumnya orang yang berlayar atau dogsledding experience.


Dia adalah Gauntlett Rob dan James Hooper. Pasangan yang baru saja naik gunung Everest tanpa memiliki pengalaman sebelumnya naik, picking up sebagai keterampilan mereka pergi. Pendaki Gunung Gauntlett meninggal saat pendakian es di Perancis Alps pada Januari. 2009.


Tom Avery menjadi orang Britania Raya termuda yang mencapai Kutub Selatan dengan berjalan kaki. menjadi sorotan terhadap karirnya pada tahun 2005, ketika ia berangkat untuk mengulang ekspedisi yang pernah dilakukan Robert Peary pada tahun 1909 ke Kutub Utara.






Tom Avery



Ekspedisi peary menjadi subyek yang kontroversial karena dalam waktu 37 hari, Peary berhasil melintasi 413 mil laut di Arktik, hal dianggap mustahil karena terlalu cepat. Dilengkapi dengan dogsleds kayu yang mirip dengan yang digunakan pada 1909 dan Peary journal, Avery berusaha mengkonfirmasikan pendakiannya. Pada akhirnya, ia dan timnya berhasil mencapai Kutub dalam 36 hari, 22 jam dan 11 menit, lengkap lima jam lebih cepat dari Peary.


Kutub Utara dan Selatan adalah dua sasaran utama para petualang pada awal abad ke – 20.Penjelajah telah mencoba mencapai Kutub Utara dengan kapal, kereta salju dan balon, tetapi semua jatuh dan meninggal dalam usahanya.


Pada April 1909, Insinyur Angkatan Laut Amerika, Robert Peary, yang telah gagal mencapai Kutub Utara sekali, berangkat untuk mencoba lagi, kali ini ditemani oleh empat mualim. Setelah 37 hari perjalanan dingin di atas es, Peary dan timnya menanam bendera Amerika di utara Bumi.



Source: http://www.belantarindonesia.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pelajaran Penting dari Kematian Pendaki di Gunung Gede

Kasus kematian Shizuko penting dijadikan pelajaran. Dari tiga pendaki yang tewas dalam sepekan ini, Shizuko Rizmadhani adalah pendaki yang termuda, baru menginjak 16 tahun. 

Shizuko mengembuskan napas terakhirnya di Kandang Batu (2.220 meter di atas permukaan laut) atau pendakian menjelang puncak Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat, setelah terserang hipotermia. Siswi SMA Negeri 6 Bekasi itu diketahui meninggal pada Selasa (24/12/2013) malam.

Mahesa Vicky, tim sukarelawan dari Indonesian Green Ranger, yang ikut memindahkan korban, mengatakan bahwa dia mendapat informasi, ada pendaki yang mengalami kedinginan hebat dan perlu pertolongan.

"Kami (petugas Ranger) dan tim relawan langsung menuju lokasi. Menurut rekan-rekannya, korban mulai kedinginan dari Senin (23/12/2013) malam, dan tim sudah berhasil mengevakuasi (memindahkan) jenazah korban dari atas gunung," tutur Vicky.

Mengapa bisa kedinginan hebat? Apa tindakan teman-temannya, mengingat korban tidak mendaki sendiri? Selain itu, apakah korban sebelumnya tidak siap mendaki kendati untuk Gunung Gede yang berada 3.019 meter di atas permukaan laut?

Cuaca ekstrem 

Banyak pertanyaan dan pendapat bisa muncul melihat kasus ini. Namun jelas sekali bahwa, di Gunung Gede, yang tidak terlalu tinggi dan jaraknya hanya "selemparan batu" dari Jakarta, seorang pendaki muda bisa tewas hanya karena hipotermia. Gunung ini kembali makan korban.

Kok bisa? Tentu saja, bisa. Pertama, Desember bukan waktu yang baik untuk pendakian di gunung-gunung tropis Indonesia, terutama untuk pendaki pemula. Seperti diketahui, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di akhir musim transisi pada Oktober-Desember harus diwaspadai, serta kemungkinan intensitas curah hujan yang sangat tinggi pada bulan Januari-Februari 2014.

"Terkait intensitas hujan, sesuai prediksi BMKG, bulan Oktober-Desember merupakan akhir dari musim transisi, dan puncak musim penghujan yang berkelanjutan serta tidak mengenal waktu, dan intensitas diwaspadai terjadi pada Januari-Februari," ujar Kasubid Informasi BMKG Harry Tirto kepada Antara.

Artinya, mendaki di masa-masa cuaca "tak bersahabat" seperti ini butuh ekstra perhatian, baik fisik, perbekalan, maupun peralatan. Pendaki profesional pasti tahu betul, mendaki pada bulan Desember hingga Februari berisiko diterjang hujan dan angin setiap waktu. Kehilangan panas tubuh karena dihantam hujan dan dingin sepanjang hari adalah "musuh utama" mendaki pada musim seperti ini.

Kedua, rencana pendakian. Tanpa perencanaan baik, selain tidak nyaman, mendaki di tengah cuaca buruk seperti ini risikonya pada nyawa. Matangnya perencanaan terkait erat dengan berat dan tidaknya rute pendakian, kebutuhan perbekalan, kesiapan fisik, peralatan, dan sebagainya, sepanjang waktu pendakian dilakukan. Nah, bagaimana persiapan korban dan teman-temannya sebelum mendaki Gunung Gede ini? Ini menjadi pertanyaan karena diketahui bahwa korban pergi mendaki bersama 27 rekannya.

Seperti dilansir oleh sejumlah media, sulit mendeteksi kesiapan korban dan timnya dalam pendakian ini, mengingat mereka tidak membawa obat-obatan atau perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Soal penanganan kondisi korban yang melemah pun tidak diketahui.

Disepelekan

"Yang saya baca di koran, kondisi fisik Shizuko sudah melemah. Ditambah pula dia ditinggal sendirian di tenda sewaktu timnyasummit attack (pendakian ke puncak). Itu tentu saja fatal karena tidak ada teman korban yang tahu kondisi terakhir korban. Pertanyaannya, kenapa orang sakit ditinggal sendirian di tenda," tukas Andy Reezwandy (35), seorang pendaki gunung asal Jakarta.

Ia mengaku, Gunung Gede selama ini memang sudah terstigma sebagai rute pendakian untuk pemula. Bahkan, anak-anak di bawah usia 15 tahun kerap diajak orangtua atau sekolahnya mendaki di gunung ini.

"Artinya, jadi seperti wisata saja, apalagi ditambah dengan omongan kalau naik gunung sekarang ini sedang ngetren. Nah, akhirnya persiapan utama mendakinya malah banyak disepelekan orang. Itu bahayanya," kata Andy.

Faktor ketiga adalah persiapan fisik. Sampai saat ini, mendaki gunung masih masuk ke olahraga ekstrem. Terkait olahraga luar ruang, "bermain-main" di gunung berarti siap-siap berkawan dengan buruknya cuaca yang susah ditebak.

"Kembali lagi ke soal pengetahuan, pendidikan yang menjadi bekal si pendaki. Dengan pengetahuan yang dia punya, sudah barang tentu persiapan pendakiannya juga baik. Dia pasti tahu risiko yang akan dia hadapi, sudah dia ukur. Minimal siap menghadapi risiko itu karena alam tidak bisa ditebak maunya," kata Adiseno, pendaki senior Mapala UI.

Di gunung apa pun dan setinggi apa pun, mendaki pada musim penghujan ini butuh persiapan matang, kondisi fisik prima, serta peralatan dan perbekalan memadai. Tentu saja, semua itu berhulu pada pengetahuan pendakian yang dimiliki seorang pendaki. Pertanyaannya, sudahkah hal-hal utama ini dipenuhi maksimal oleh korban dan teman-temannya? Karena risikonya sudah langsung terjawab, korban meregang nyawa karena serangan hipotermia atau kehilangan suhu panas tubuh akibat basah dan kedinginan.

Jangan-jangan, soal hipotermia dan penyebabnya pun kita tak tahu dan tak mau tahu! Rasanya, inilah pelajaran berharga yang harus diambil mengingat masih banyak pendaki yang akan menuntaskan pendakiannya pada Desember hingga Februari nanti.

Bukan sesumbar, tak perlu takut mati jika punya keinginan mendaki, asalkan persiapan telah maksimal dipenuhi. Anda sudah siap?

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2013/12/28/1601027/Pelajaran.Penting.dari.Kematian.Pendaki.di.Gunung.Gede

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS